Pada 18 Oktober 2024, upacara pengumpanan bahan baku pabrik proyek prekursor ternary baterai Huayou Cobalt sukses digelar di Taman Industri Weda Bay, Indonesia. Sejak tahun 2018, Huayou Cobalt telah berinvestasi total hampir USD 5 miliar di Indonesia. Lalu mengapa Huayou Cobalt optimis terhadap Indonesia dan terus mengembangkan bisnis material baterai energi baru di sini? Berikut penjelasan dari Pak Wang:
Pertama, Huayou Cobalt didirikan pada tahun 2002 oleh pengusaha Zhejiang, Bapak Chen Xuehua, dengan kantor pusat di Tongxiang, Zhejiang. Perusahaan ini masuk dalam daftar 500 Perusahaan Teratas Tiongkok, dan merupakan perusahaan teknologi tinggi yang bergerak di bidang penelitian, pengembangan, dan manufaktur material litium baterai energi baru serta material kobalt baru. Karena sejak awal optimis terhadap prospek logam kobalt, pada tahun 2003 perusahaan memilih untuk go global ke Republik Demokratik Kongo (DRC) untuk melakukan akuisisi dan pengolahan tambang kobalt. Pada tahun 2015, Huayou Cobalt berhasil tercatat di Papan Utama Bursa Efek Shanghai, dan pada akhir tahun 2021, nilai pasar Huayou Cobalt melonjak hingga ratusan miliar yuan. Dengan kekayaan pribadi sebesar RMB 18,5 miliar, Chen Xuehua menduduki peringkat ke-380 dalam daftar Hurun Rich List 2021, menjadi orang terkaya di Tongxiang. Huayou menjadi pemasok produk kobalt terbesar di China, dan Bapak Chen Xuehua dikenal sebagai Raja Kobalt. Pada tahun 2024, dalam daftar 500 Perusahaan Teratas Tiongkok, Huayou Cobalt menduduki peringkat ke-363 dengan pendapatan sebesar RMB 66,3 miliar pada tahun 2023.
Kedua, seiring dengan perkembangan industri material baterai energi baru dan kendaraan listrik global, pada tahun 2018 Huayou Cobalt secara visioner memulai penataan sumber daya nikel di Indonesia, dengan mengandalkan Taman Industri Morowali dan Taman Industri Weda Bay milik grup Tsingshan untuk mengembangkan bisnis penambangan nikel. Proyek Huayue (hidrometalurgi), Huake (nikel matte), dan Huafei (hidrometalurgi) yang masing-masing diinvestasikan pada tahun 2018, 2020, dan 2021, menjadikan Huayou sebagai perusahaan terdepan dalam penataan sumber daya nikel di antara perusahaan material baterai. Hingga akhir tahun 2023, Huayou Cobalt telah menginvestasikan total 15 proyek di negara-negara Asia di sepanjang Jalur Sutra, terutama di Indonesia, dengan total investasi hampir USD 5 miliar.
Ketiga, pada 21 April 2024, proyek prekursor ternary Huayou Indonesia di Taman Industri Weda Bay, Maluku, Indonesia, melakukan peletakan batu pertama. Proyek seluas sekitar 65.000 meter persegi ini selesai konstruksi utamanya hanya dalam 164 hari hingga 18 Oktober. Proyek ini merupakan proyek prekursor luar negeri pertama Huayou. Huayou Cobalt telah menjalin kerja sama yang mendalam dengan perusahaan terkemuka di bidang baterai energi baru dan kendaraan listrik seperti Tesla, CATL, BYD, dan LG Chem.
Berkat kontribusinya yang luar biasa di industri nikel dan energi baru Indonesia, pendiri Huayou Cobalt, Chen Xuehua, telah beberapa kali diterima oleh Presiden Joko Widodo. Pada Oktober 2023, pada Forum Kerja Sama Internasional Jalur Sutra ketiga yang diadakan di Beijing, Huayou Cobalt terpilih sebagai contoh kasus pembangunan Jalur Sutra.
Pada 18 Oktober 2024, upacara pengumpanan bahan baku pabrik proyek prekursor ternary baterai Huayou Cobalt sukses digelar di Taman Industri Weda Bay, Indonesia. Sejak tahun 2018, Huayou Cobalt telah berinvestasi total hampir USD 5 miliar di Indonesia. Lalu mengapa Huayou Cobalt optimis terhadap Indonesia dan terus mengembangkan bisnis material baterai energi baru di sini? Berikut penjelasan dari Pak Wang:
Pertama, Huayou Cobalt didirikan pada tahun 2002 oleh pengusaha Zhejiang, Bapak Chen Xuehua, dengan kantor pusat di Tongxiang, Zhejiang. Perusahaan ini masuk dalam daftar 500 Perusahaan Teratas Tiongkok, dan merupakan perusahaan teknologi tinggi yang bergerak di bidang penelitian, pengembangan, dan manufaktur material litium baterai energi baru serta material kobalt baru. Karena sejak awal optimis terhadap prospek logam kobalt, pada tahun 2003 perusahaan memilih untuk go global ke Republik Demokratik Kongo (DRC) untuk melakukan akuisisi dan pengolahan tambang kobalt. Pada tahun 2015, Huayou Cobalt berhasil tercatat di Papan Utama Bursa Efek Shanghai, dan pada akhir tahun 2021, nilai pasar Huayou Cobalt melonjak hingga ratusan miliar yuan. Dengan kekayaan pribadi sebesar RMB 18,5 miliar, Chen Xuehua menduduki peringkat ke-380 dalam daftar Hurun Rich List 2021, menjadi orang terkaya di Tongxiang. Huayou menjadi pemasok produk kobalt terbesar di China, dan Bapak Chen Xuehua dikenal sebagai Raja Kobalt. Pada tahun 2024, dalam daftar 500 Perusahaan Teratas Tiongkok, Huayou Cobalt menduduki peringkat ke-363 dengan pendapatan sebesar RMB 66,3 miliar pada tahun 2023.
Kedua, seiring dengan perkembangan industri material baterai energi baru dan kendaraan listrik global, pada tahun 2018 Huayou Cobalt secara visioner memulai penataan sumber daya nikel di Indonesia, dengan mengandalkan Taman Industri Morowali dan Taman Industri Weda Bay milik grup Tsingshan untuk mengembangkan bisnis penambangan nikel. Proyek Huayue (hidrometalurgi), Huake (nikel matte), dan Huafei (hidrometalurgi) yang masing-masing diinvestasikan pada tahun 2018, 2020, dan 2021, menjadikan Huayou sebagai perusahaan terdepan dalam penataan sumber daya nikel di antara perusahaan material baterai. Hingga akhir tahun 2023, Huayou Cobalt telah menginvestasikan total 15 proyek di negara-negara Asia di sepanjang Jalur Sutra, terutama di Indonesia, dengan total investasi hampir USD 5 miliar.
Ketiga, pada 21 April 2024, proyek prekursor ternary Huayou Indonesia di Taman Industri Weda Bay, Maluku, Indonesia, melakukan peletakan batu pertama. Proyek seluas sekitar 65.000 meter persegi ini selesai konstruksi utamanya hanya dalam 164 hari hingga 18 Oktober. Proyek ini merupakan proyek prekursor luar negeri pertama Huayou. Huayou Cobalt telah menjalin kerja sama yang mendalam dengan perusahaan terkemuka di bidang baterai energi baru dan kendaraan listrik seperti Tesla, CATL, BYD, dan LG Chem.
Berkat kontribusinya yang luar biasa di industri nikel dan energi baru Indonesia, pendiri Huayou Cobalt, Chen Xuehua, telah beberapa kali diterima oleh Presiden Joko Widodo. Pada Oktober 2023, pada Forum Kerja Sama Internasional Jalur Sutra ketiga yang diadakan di Beijing, Huayou Cobalt terpilih sebagai contoh kasus pembangunan Jalur Sutra.