Badan Pusat Statistik (BPS) mengakui bahwa nilai impor pakaian dengan kode HS 61 dan 62 mengalami peningkatan sebesar 55,46% dan 29,61% secara bulanan (month-to-month/mtm).Dari segi negara asal impor, barang HS 61 yang terdiri dari pakaian rajutan dan aksesorinya berasal dari China, Bangladesh, Turki, dan Italia.Sementara itu, barang HS 62 yang terdiri dari pakaian dan aksesori bukan rajutan lebih banyak berasal dari China, Bangladesh, Vietnam, Hong Kong China, dan Maroko. Faktanya, impor pakaian jadi meningkat, khususnya HS 61 pakaian rajutan dan aksesorinya serta HS 62 pakaian bukan rajutan dan aksesorinya. Secara bulanan, HS 61 meningkat 55,46% dan HS 62 meningkat 29,61%. Meskipun secara bulanan, impor kumulatif pakaian jadi, terutama dari China, tercatat menurun. Misalnya, untuk impor barang HS 62, selama periode Januari hingga Juli 2024 turun 1,71%, sementara kelompok pakaian yang mengalami penurunan cukup tinggi adalah pakaian bukan katun atau kode HS 6212099. Sementara itu, impor barang HS 61 mengalami penurunan yang lebih besar, yaitu 4,75%. Barang yang paling banyak berkurang adalah pakaian rajutan dan aksesorinya. Namun perlu dicatat bahwa selama periode Januari hingga Juli 2024, impor barang HS 61 pakaian rajutan dari China secara kumulatif turun 4,75%, dengan penurunan terbesar pada pakaian rajutan atau aksesorinya, selain itu HS 62 juga turun 1,71%. Mirip dengan impor barang pakaian, hingga Juli 2024, nilai impor alas kaki dari China yang termasuk dalam kode HS 64 meningkat 3,37% (mtm) dan 21,54% secara tahunan (yoy) mencapai USD 50,99 juta. Baik pakaian maupun alas kaki sama-sama meningkat setiap bulan. Namun, untuk melihat kinerja ekspor impor suatu barang, lebih baik jika dilihat secara kumulatif dalam jangka waktu tertentu. Jika bulanan relatif terlambat dipengaruhi oleh proses waktu pengiriman, maka kebutuhan stok mungkin berbeda setiap bulannya, tetapi jika ingin melihat bagaimana kinerja ekspor impor suatu negara, lebih baik melihat angka yang sudah terkumpul atau angka kumulatif.