Pemerintah berencana meningkatkan penggunaan kendaraan listrik dengan harga yang semakin terjangkau. Dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM), kendaraan tradisional ini akan dibatasi karena penghentian penjualan. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyatakan bahwa sedang menyusun larangan penjualan kendaraan tradisional yang menggunakan mesin pembakaran internal (ICE) berbasis bensin. Deputi Koordinator Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves mengatakan bahwa larangan penjualan mobil bensin akan menjadi bagian dari upaya mempercepat adopsi kendaraan listrik atau battery electric vehicle (BEV). Mereka terus berkomitmen untuk menyusun mekanisme kebijakan pelarangan penjualan kendaraan tradisional. Dalam hal ini, pemerintah menargetkan tidak ada lagi kendaraan mesin pembakaran internal baru yang dijual di pasar domestik pada tahun 2045. Secara sekilas, rencana penghentian penjualan kendaraan tradisional ini cukup menantang, meskipun sisa waktu kebijakan ini hanya 21 tahun. Hal ini karena sebagian besar mobil baru yang dijual di pasar Indonesia masih menggunakan bahan bakar fosil. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengungkapkan bahwa kebijakan yang diterapkan pemerintah berhasil menarik minat investor untuk berinvestasi dalam pengembangan kendaraan listrik. Kemajuan teknologi kendaraan listrik tidak hanya mencerminkan tren global, tetapi juga merupakan elemen kunci dalam transisi menuju ekonomi hijau dan berkelanjutan. Teknologi kendaraan listrik (EV) mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama dalam efisiensi baterai dan jaringan pengisian daya. Di bidang baterai, terdapat inovasi terbaru seperti teknologi natrium-ion yang saat ini masih dalam tahap penelitian lebih lanjut. Untuk mendukung investasi di industri kendaraan listrik, pemerintah telah memberikan berbagai insentif kebijakan, termasuk penghapusan bea masuk untuk impor mobil listrik roda empat (BEV), insentif pajak penjualan barang mewah (PPnBM) untuk mobil listrik roda empat, serta program insentif sebesar 7 juta rupiah untuk sepeda motor listrik. Kebijakan ini terbukti efektif, data Gaikindo menunjukkan bahwa penjualan kendaraan listrik di Indonesia meningkat pesat. Pada Januari hingga Juli 2024, penjualan kendaraan listrik mencapai 17.826 unit, meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Beberapa produsen mobil mengklaim bahwa sebelum bulan September, mereka akan memberikan program diskon atau potongan harga besar untuk produk battery electric vehicle (BEV). Wuling, Chery, dan Hyundai semuanya memberikan diskon untuk beberapa produk mereka. Produk-produk tersebut termasuk Wuling Air EV, Wuling Binguo EV, Wuling Cloud EV, Omoda E5, dan Hyundai Ioniq 5. Sementara itu, diskon yang diberikan bervariasi antara 15 juta rupiah hingga 60 juta rupiah tergantung model. Penawaran pertama datang dari Chery, yang mobil listrik murni pertamanya sekaligus produk andalannya, yaitu Omoda E5. Harga awal Omoda E5 adalah 419 juta rupiah, dengan diskon 15 juta rupiah. Jika membeli Omoda 5 RZ (non-listrik), diskonnya bisa mencapai 40 juta rupiah. Besaran penurunan harga tidak jauh berbeda dengan Ioniq 5, yang merupakan salah satu mobil listrik murni terlaris di Indonesia sejak diluncurkan tahun lalu, dengan diskon mencapai 20 juta rupiah. Namun, diskon hanya berlaku untuk varian Signature Long Range, karena varian Prime standard range menjadi kunci. Wuling memberikan diskon besar untuk tiga seri mobil listrik yang berbeda, yaitu Air EV sebesar 56 juta rupiah, Binguo EV sebesar 33 juta hingga 60 juta rupiah, dan Cloud EV sebesar 38 juta rupiah. Berdasarkan catatan, saat ini waktu pengiriman untuk semua model Air EV sekitar satu bulan, karena stok mobil di dealer hampir habis. Binguo juga tergantung model, varian jarak tempuh 333 km mendapat diskon 33 juta rupiah, sedangkan varian jarak tempuh premium 410 km dengan harga diskon dari 408 juta rupiah menjadi 342 juta rupiah (diskon 60 juta rupiah).