Menteri Koperasi dan UKM (MenkopUKM) mendorong pengembangan hilir berbagai produk daun kratom, potensi pengembangan produk hilir kratom sangat besar, bahkan bisa menghasilkan keuntungan hingga Rp90 juta per kilogram (Kg). Dalam rapat kabinet, kratom ditetapkan sebagai tanaman herbal. Ia memiliki potensi produk, tidak hanya untuk industri makanan dan minuman atau kuliner, tetapi juga untuk industri farmasi dan kesehatan. Akan disayangkan jika hanya menjual bahan mentah. Harga ekstrak saat ini mencapai $6.000 per kg, atau Rp90 juta. Selain itu ia mengatakan, teknologi peralatan produksi hilir juga relatif murah dan mudah didapat. Teknologi ini tidak sulit dan tidak mahal. Ke depan pemerintah akan bersama-sama memikirkan, apakah akan membangun pabrik produksi bersama, atau industri membangun sendiri. Sampai saat ini, India dan Amerika Serikat sudah menggunakannya. Pembangunan pabrik pengolahan hilir daun kratom hingga ekstraksi membutuhkan biaya sekitar Rp10 miliar, sedangkan harga peralatan produksi ekstraksi hanya sekitar Rp3,5 miliar. Potensi di bidang ini sangat besar, potensi di Eropa dan Amerika sangat besar. Mereka juga berharap UMKM tidak memproduksi produk yang sama, mereka berharap mengolah sumber daya alam komoditas hilir, produk perkebunan, pertanian, atau kelautan. Oleh karena itu untuk memasok industri, bahkan dari ekstrak ini, industri minuman dapat menggunakan daun kratom untuk membuat minuman energi. Ia memastikan tanaman herbal daun kratom aman dan tidak termasuk narkotika golongan I, ia tidak menyangkal bahwa daun kratom dilarang di Amerika Serikat, tetapi bukan karena daun kratom adalah narkotika, melainkan karena adanya bakteri E. coli. Ia optimis terhadap pelaksanaan hilirisasi produk kratom, terutama Koperasi Produsen Anugerah Bumi Hijau (Koprabuh) telah melakukan penelitian yang cukup mendalam. Ini dapat menjadi bahan baku rantai pasok industri farmasi, makanan dan minuman, serta industri lainnya. Permintaan global terhadap daun kratom meningkat, berdasarkan data Kementerian Perdagangan, sejak tahun 2019 nilai ekspor daun kratom cenderung tumbuh 15,92% per tahun. Salah satu tujuan utama ekspor daun kratom Indonesia adalah Amerika Serikat. Pada periode Januari hingga Mei 2023, porsi AS mencapai $4,86 juta, atau 66,3% dari total ekspor kratom Indonesia. Ia berharap jangan sampai negara lain memanfaatkan potensi dan keuntungan besar daun kratom. Sementara itu, CEO Koprabuh Indonesia menyatakan bahwa produk kratom sudah masuk dalam kategori herbal dan ekspor legal, potensi pengembangannya sangat besar. Istilahnya adalah emas hijau, potensinya lebih besar dari kelapa sawit. Menanam daun kratom tidak rumit, kuncinya harus dekat dengan sumber air, daerah aliran sungai, rawa, dan tepi danau. Meskipun terendam banjir selama tiga bulan, pohon kratom tetap terus tumbuh.