Pemerintah Indonesia terus mendorong elektrifikasi berbagai kendaraan seperti mobil penumpang, bus, dan truk menuju transisi elektrifikasi, namun di sektor truk yang menjadi inti logistik, elektrifikasi masih menghadapi banyak kendala nyata sehingga sulit untuk diadopsi secara cepat. Saat ini, struktur penggunaan truk di industri logistik Indonesia sangat usang, menjadi masalah menonjol dalam transisi energi.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menyatakan bahwa terdapat sekitar 6,4 juta truk beroperasi di Indonesia, dengan proporsi yang sangat rendah dalam kondisi usia pakai yang baik. Data menunjukkan sekitar 65% truk telah berusia lebih dari 20 tahun, bahkan beberapa telah beroperasi lebih dari 40 tahun, sehingga armada secara keseluruhan sangat tua. Lebih parahnya, hanya 5% kendaraan di seluruh industri yang memenuhi standar operasi keselamatan secara teknis, sementara kendaraan tua dan berpolusi tinggi mendominasi.
Dalam seminar terkait Pameran Logistik Internasional Indonesia (GIICOMVEC) yang baru-baru ini diadakan di JIExpo Jakarta, ia menekankan bahwa jika pemerintah serius mendorong transisi truk listrik, harus ada kebijakan subsidi yang jelas. Ia menyarankan agar subsidi BBM secara bertahap dialihkan ke kendaraan baru seperti truk listrik, yang dapat meringankan beban keuangan negara sekaligus mempercepat transisi energi bersih.
Asosiasi menyatakan dukungan dan optimisme terhadap transisi elektrifikasi, serta berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih berpihak, menyederhanakan proses regulasi, sehingga proyek truk listrik dapat diimplementasikan, dan proyek percontohan dapat menjadi pendorong utama untuk memperbarui armada tua.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menekankan bahwa elektrifikasi truk bukan sekadar mengganti sistem tenaga, melainkan restrukturisasi menyeluruh terhadap ekosistem logistik yang meliputi sumber daya manusia, teknologi, dan infrastruktur.
Ia berpendapat bahwa hambatan terbesar dalam transisi truk listrik saat ini bukanlah pasokan kendaraan atau investasi awal, melainkan masalah kesesuaian sumber daya manusia. Kelompok pengemudi masih sangat bergantung pada truk diesel tradisional dalam hal kebiasaan mengemudi dan pemahaman teknis, serta umumnya ragu terhadap daya tahan dan keandalan truk listrik. Transisi memerlukan perubahan total dalam mode operasi dan pola pikir pengemudi, dan harus disertai dengan adaptasi budaya dan pelatihan keterampilan untuk mengubah sikap skeptis industri terhadap truk listrik, sehingga para pelaku industri benar-benar menerima karakteristiknya yang lebih aman, efisien, dan cocok untuk operasi, barulah adopsi skala besar dapat tercapai.
Transformasi Truk Listrik di Indonesia Hadapi Banyak Tantangan, Kekurangan SDM Jadi Hambatan Utama
Pemerintah Indonesia terus mendorong elektrifikasi berbagai kendaraan seperti mobil penumpang, bus, dan truk menuju transisi elektrifikasi, namun di sektor truk yang menjadi inti logistik, elektrifikasi masih menghadapi banyak kendala nyata sehingga sulit untuk diadopsi secara cepat. Saat ini, struktur penggunaan truk di industri logistik Indonesia sangat usang, menjadi masalah menonjol dalam transisi energi.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menyatakan bahwa terdapat sekitar 6,4 juta truk beroperasi di Indonesia, dengan proporsi yang sangat rendah dalam kondisi usia pakai yang baik. Data menunjukkan sekitar 65% truk telah berusia lebih dari 20 tahun, bahkan beberapa telah beroperasi lebih dari 40 tahun, sehingga armada secara keseluruhan sangat tua. Lebih parahnya, hanya 5% kendaraan di seluruh industri yang memenuhi standar operasi keselamatan secara teknis, sementara kendaraan tua dan berpolusi tinggi mendominasi.
Dalam seminar terkait Pameran Logistik Internasional Indonesia (GIICOMVEC) yang baru-baru ini diadakan di JIExpo Jakarta, ia menekankan bahwa jika pemerintah serius mendorong transisi truk listrik, harus ada kebijakan subsidi yang jelas. Ia menyarankan agar subsidi BBM secara bertahap dialihkan ke kendaraan baru seperti truk listrik, yang dapat meringankan beban keuangan negara sekaligus mempercepat transisi energi bersih.
Asosiasi menyatakan dukungan dan optimisme terhadap transisi elektrifikasi, serta berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih berpihak, menyederhanakan proses regulasi, sehingga proyek truk listrik dapat diimplementasikan, dan proyek percontohan dapat menjadi pendorong utama untuk memperbarui armada tua.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menekankan bahwa elektrifikasi truk bukan sekadar mengganti sistem tenaga, melainkan restrukturisasi menyeluruh terhadap ekosistem logistik yang meliputi sumber daya manusia, teknologi, dan infrastruktur.
Ia berpendapat bahwa hambatan terbesar dalam transisi truk listrik saat ini bukanlah pasokan kendaraan atau investasi awal, melainkan masalah kesesuaian sumber daya manusia. Kelompok pengemudi masih sangat bergantung pada truk diesel tradisional dalam hal kebiasaan mengemudi dan pemahaman teknis, serta umumnya ragu terhadap daya tahan dan keandalan truk listrik. Transisi memerlukan perubahan total dalam mode operasi dan pola pikir pengemudi, dan harus disertai dengan adaptasi budaya dan pelatihan keterampilan untuk mengubah sikap skeptis industri terhadap truk listrik, sehingga para pelaku industri benar-benar menerima karakteristiknya yang lebih aman, efisien, dan cocok untuk operasi, barulah adopsi skala besar dapat tercapai.