Konflik geopolitik di Timur Tengah yang terus meningkat menyebabkan kenaikan signifikan harga minyak dunia, berdampak langsung pada rantai pasok industri tekstil Indonesia dari hulu ke hilir. Para pelaku industri menyatakan kekhawatiran yang kuat terhadap prospek keberlanjutan usaha. Sebagai bahan baku inti industri tekstil, harga produk petrokimia melonjak pesat, tekanan biaya produksi perusahaan meningkat drastis, yang secara bertahap akan merambat ke pasar akhir, memicu kenaikan harga pakaian jadi dan harga eceran secara menyeluruh. Ketua Asosiasi Produsen Serat dan Benang Sintetis Indonesia (APSyFI) menyatakan bahwa harga Paraxylene, bahan baku utama poliester, saat ini telah mencapai 1.300 dolar AS per ton, meningkat sekitar 40% dibandingkan dua minggu lalu. Lonjakan ini didorong langsung oleh kenaikan harga minyak dunia, dan konflik Timur Tengah merupakan pemicu utama kenaikan harga minyak. Ia menunjuk bahwa dampak kenaikan harga bahan baku belum sepenuhnya merambat ke industri hilir, diperkirakan akan menyebar secara bertahap dalam tiga minggu ke depan. Dalam seminggu ke depan, tekanan kenaikan harga akan terlebih dahulu merambat ke produsen kain; dua minggu kemudian, sektor pembuatan pakaian jadi akan menanggung beban penuh, membentuk rantai transmisi biaya yang lengkap. Ia memperkirakan harga pakaian jadi di sisi ritel juga akan menyesuaikan, dengan kenaikan keseluruhan diperkirakan sekitar 10%. Dari sisi permintaan pasar, saat ini permintaan pasar tekstil Indonesia masih stabil, bahkan menunjukkan tren peningkatan sedikit. Penyebab utamanya adalah kenaikan harga bahan baku impor lebih tinggi dibandingkan produk lokal, sehingga produk tekstil dalam negeri relatif lebih kompetitif. Selain itu, pasokan bahan baku seperti poliester dan viskosa produksi dalam negeri saat ini tidak mengalami kekurangan, stok pasar melimpah. Inti permasalahan yang dihadapi industri saat ini bukanlah gangguan pasokan, melainkan tekanan biaya akibat harga yang tetap tinggi. Meskipun pasokan bahan baku lokal stabil, harga yang terus tinggi tetap berdampak pada seluruh ekosistem tekstil. Dari bahan baku petrokimia hulu, pemintalan dan penenunan di tengah, hingga pembuatan pakaian jadi dan ritel di hilir, seluruh rantai pasok akan menghadapi penyesuaian ulang biaya dan harga. Pelaku industri umumnya berpendapat bahwa jika situasi Timur Tengah terus memanas dan harga minyak dunia tetap tinggi, tekanan operasional industri tekstil Indonesia akan semakin besar, dan kenaikan harga barang konsumsi akhir juga akan berdampak nyata pada belanja konsumen masyarakat.