Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Indonesia merangkap Wakil Kepala BKPM baru-baru ini mengumumkan bahwa anak perusahaan energi baru dan terbarukan Pertamina (Pertamina NRE) akan bekerja sama dengan Toyota Group untuk membangun pabrik bioetanol generasi kedua di Indonesia guna mendukung kebijakan pencampuran wajib energi hijau yang diterapkan pemerintah. Proyek ini bertujuan untuk merealisasikan rencana strategis nasional Indonesia, yaitu mewajibkan standar pencampuran bioetanol dalam bensin sebesar 10% (E10) paling lambat pada tahun 2028. Kedua belah pihak akan menggunakan teknologi bioetanol multipakan generasi kedua (2G), memanfaatkan sumber daya lokal Indonesia secara optimal, dengan bahan baku biomassa kelapa sawit, jagung, sorgum, dll., sehingga menjamin pasokan bahan baku sekaligus mendorong pengembangan sinergi antara sektor pertanian dan energi. Etanol sebagai sumber energi campuran terbarukan yang penting telah dimasukkan dalam rencana pembangunan jangka panjang pemerintah. Kerja sama antara Pertamina NRE dan Toyota ini merupakan sinergi penting antara BUMN Indonesia dan investor global dalam membangun ekosistem energi masa depan. Kerja sama ini telah beralih dari penjajakan awal ke tahap implementasi substantif, dengan arah yang jelas dan target yang terukur. Ia mengungkapkan bahwa kerja sama ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun lalu, namun berjalan dengan rendah hati, dan akhirnya ditetapkan Toyota Tsusho sebagai mitra utama pihak Jepang. Lokasi pabrik telah ditentukan di Provinsi Lampung, terutama karena daerah tersebut memiliki basis besar tanaman tebu, singkong, dan bahan baku lain yang cocok untuk produksi etanol, dengan keunggulan rantai pasok yang signifikan. Proyek ini juga dilengkapi dengan rencana pembangunan lahan penanaman sorgum untuk mendukung pasokan bahan baku yang stabil. Kapasitas produksi awal proyek adalah 60.000 kiloliter per tahun, studi kelayakan hampir selesai, dan anggaran sedang direalisasikan. Target investor adalah memulai konstruksi pada kuartal ketiga 2026, paling lambat kuartal keempat. CEO Toyota untuk Asia pada saat yang sama menyatakan bahwa kerja sama ini sangat relevan dengan bisnis otomotif Toyota, karena bahan bakar etanol dapat langsung digunakan pada model kendaraan yang ada, mendukung kebijakan pemerintah untuk mendorong dekarbonisasi energi di sektor transportasi. Pemerintah Indonesia memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan bioetanol, dengan peta jalan pencampuran etanol bahan bakar yang jelas: 2026–2027 menerapkan E5 (pencampuran 5%), 2028–2030 ditingkatkan menjadi E10, dan target jangka panjang adalah E20. Proyek bioetanol ini tidak hanya akan mendorong transformasi struktural energi Indonesia, tetapi juga meningkatkan kemandirian energi dan mendorong nilai tambah pertanian.