Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama Kementerian Pekerjaan Umum sedang melakukan survei dan perencanaan waduk untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya terapung (PLTS apung) secara besar-besaran di permukaan waduk, guna mempercepat pencapaian target strategis kapasitas terpasang surya nasional sebesar 100 Gigawatt. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM dalam acara peluncuran PLTS Atap 1 GW Indonesia baru-baru ini menyatakan bahwa berdasarkan perhitungan awal, jika 20% luas permukaan waduk yang sedang dibangun dan telah dibangun oleh Kementerian PU dikembangkan untuk PLTS terapung, maka dapat menambah kapasitas terpasang fotovoltaik lebih dari 15 GW, yang akan menjadi pendukung penting bagi Indonesia dalam mencapai target surya. Survei sumber daya PLTS waduk ini bertujuan utama untuk mencapai target ambisius kapasitas terpasang surya nasional 100 GW sebelum tahun 2029. Ia menekankan bahwa target ini tidak hanya untuk meningkatkan skala kapasitas terpasang energi bersih, tetapi juga melalui proyek skala besar untuk mendorong permintaan industri fotovoltaik dalam negeri dan mengembangkan rantai pasokan lokal. Data menunjukkan bahwa hingga saat ini, total kapasitas terpasang PLTS di Indonesia sekitar 1,5 GW, dengan kontribusi PLTS atap sebesar 895 MW, yang masih dalam tahap awal. Ia mengakui bahwa Indonesia masih berupaya untuk mencapai skala PLTS yang lebih tinggi, dan arah kebijakan saat ini tidak hanya mempercepat pembangunan PLTS ground-mounted dan PLTS atap, tetapi juga fokus mendorong realisasi PLTS terapung secara masif, di mana PLTS di atas air akan menjadi sumber penambahan kapasitas yang penting. Indonesia memiliki banyak sumber daya air seperti waduk dan danau, pengembangan PLTS terapung dapat tidak menggunakan lahan dan sekaligus mengurangi penguapan air serta meningkatkan efisiensi pembangkit. Pengembangan PLTS di waduk juga mendukung pemanfaatan terpadu infrastruktur air dan proyek energi. Perencanaan lintas sektor ini menandai bahwa transisi energi Indonesia memasuki tahap diversifikasi, dengan pendekatan "tiga jalur" (darat, atap, air) untuk mempercepat perluasan skala PLTS, sekaligus mendorong lapangan kerja dan pengembangan industri, serta meningkatkan proporsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional.