Dalam acara Festival Kuliner Indonesia yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Indonesia di China, Duta Besar Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun, membahas kondisi kerja sama perdagangan pangan China-Indonesia. Ia menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, tingkat penerimaan dan kesadaran pasar China terhadap berbagai produk pangan Indonesia meningkat secara stabil. Berbagai makanan ringan, minuman, dan produk pangan lokal khas Indonesia terus memasuki pasar konsumen domestik China, sehingga arah kerja sama secara keseluruhan di bidang pangan kedua negara menunjukkan tren positif. Seiring dengan pendalaman kerja sama, banyak perusahaan pangan Indonesia memilih untuk hadir di China, dengan membangun pabrik produksi di China dan bekerja sama dengan mitra China untuk melakukan kolaborasi yang mendalam. Kerja sama industri pangan bilateral telah melampaui model awal perdagangan ekspor-impor murni, dan tata letak rantai industrinya meluas ke seluruh rantai seperti investasi riil, pengolahan pangan yang mendalam, logistik pergudangan, penelitian dan pengembangan teknologi produksi, serta inkubasi merek lokal. Berdasarkan proyek kerja sama utama "Dua Negara, Dua Taman" antara China dan Indonesia, selain kerja sama industri di dalam taman, kedua negara juga secara bersamaan menyempurnakan saluran distribusi komoditas dan sistem rantai pasok lintas batas, sehingga semakin memperkuat dasar pengembangan jangka panjang perdagangan pangan. Makanan dan kuliner telah menjadi jembatan penting untuk mendekatkan hubungan rakyat China-Indonesia dan memperdalam saling pengertian antar masyarakat. Kini, hidangan khas tradisional dari berbagai daerah di Indonesia seperti Rendang Daging Sapi Sumatera Barat, Gudeg Nangka Yogyakarta, Sop Daging Sapi Makassar, Papeda Maluku, Bebek Betutu Bali terus memasuki pasar restoran di China dan mendapat sambutan dari banyak pecinta kuliner China. Ketika ditanya tentang rekomendasi hidangan utama, Djauhari Oratmangun secara khusus merekomendasikan Rendang Daging Sapi yang berasal dari Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Hidangan ini merupakan makanan tradisional ikonik Indonesia, yang memiliki akar budaya kuliner yang dalam dan basis penggemar yang luas di Indonesia. Berkat popularitas pertukaran antarmasyarakat yang dibawa oleh kuliner, kerja sama industri pangan kedua negara mendapatkan dasar konsumsi rakyat yang kuat, yang pada gilirannya mendorong perluasan perdagangan dan investasi industri dari sisi konsumen massal. Di bawah dorongan dua arah antara permintaan konsumen dan kerja sama industri, ikatan ekonomi dan perdagangan yang dibangun China-Indonesia melalui kuliner khas semakin kuat, terus membantu kerja sama bilateral menuju tahap pengembangan baru yang lebih berkualitas dan lebih luas.