Pemerintah Prabowo menunjukkan tekad kuat dalam pengentasan kemiskinan, melalui berbagai rencana strategis yang berhasil menurunkan angka kemiskinan secara berkelanjutan. Data Badan Pusat Statistik Indonesia menunjukkan pada tahun 2025 tingkat kemiskinan turun menjadi 8,47%, jumlah penduduk miskin ekstrem menurun drastis dari 3,56 juta menjadi sekitar 2,2 juta jiwa, hasil pengentasan kemiskinan sangat signifikan. Menteri Imigrasi dan Pemukiman menyatakan hasil ini membuktikan perhatian tinggi pemerintah Prabowo terhadap pengentasan kemiskinan selama satu setengah tahun pemerintahannya. Pada November 2022 saat berkunjung ke Tiongkok, Presiden Prabowo telah menyatakan keinginan untuk belajar dari pengalaman pengentasan kemiskinan Tiongkok, dan sejak itu pemerintah Indonesia terus memperdalam kerja sama dengan Tiongkok dalam pengentasan kemiskinan dan berbagai bidang.
Kerja sama pengentasan kemiskinan Indonesia-Tiongkok membuahkan hasil nyata, termasuk pembangunan sekolah kejuruan teknik di Marauke, Papua, yang memberdayakan pendidikan untuk meningkatkan lapangan kerja dan membantu pengentasan kemiskinan. Ketua DPR RI menyatakan bahwa pengalaman Tiongkok dalam mengelola perekonomian 1,4 miliar penduduk memberikan referensi penting bagi pembangunan Indonesia, di mana kebijakannya mampu menstabilkan masyarakat dan meningkatkan kepercayaan publik. Di tingkat domestik, Kementerian Imigrasi dan Pemukiman membangun koridor ekonomi di Sulawesi Tengah, yang berfokus pada budidaya tanaman komoditas seperti kopi, kakao, dan durian. Pada pertengahan April 2026, kawasan ini untuk pertama kalinya melakukan ekspor durian beku ke Tiongkok.
Pasar durian Tiongkok mencapai nilai 120 triliun hingga 137 triliun rupiah, secara langsung mendorong harga durian lokal naik dari 4.000-5.000 rupiah per buah menjadi lebih dari 25.000 rupiah, secara signifikan meningkatkan pendapatan masyarakat dan membantu pengentasan kemiskinan. Selain itu, pemerintah Indonesia mendorong swasembada pangan dengan mendirikan pusat penelitian padi, yang menargetkan peningkatan produksi padi dari 2 ton per hektar menjadi 6-8 ton. Sambil belajar dari model industrialisasi dan pengembangan hilir Tiongkok, Indonesia memajukan pembangunan infrastruktur, pemukiman kembali penduduk, dan pembentukan pusat ekonomi baru, dengan terus fokus pada target pengentasan kemiskinan melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan, mendorong pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.
Pemerintah Prabowo menunjukkan tekad kuat dalam pengentasan kemiskinan, melalui berbagai rencana strategis yang berhasil menurunkan angka kemiskinan secara berkelanjutan. Data Badan Pusat Statistik Indonesia menunjukkan pada tahun 2025 tingkat kemiskinan turun menjadi 8,47%, jumlah penduduk miskin ekstrem menurun drastis dari 3,56 juta menjadi sekitar 2,2 juta jiwa, hasil pengentasan kemiskinan sangat signifikan. Menteri Imigrasi dan Pemukiman menyatakan hasil ini membuktikan perhatian tinggi pemerintah Prabowo terhadap pengentasan kemiskinan selama satu setengah tahun pemerintahannya. Pada November 2022 saat berkunjung ke Tiongkok, Presiden Prabowo telah menyatakan keinginan untuk belajar dari pengalaman pengentasan kemiskinan Tiongkok, dan sejak itu pemerintah Indonesia terus memperdalam kerja sama dengan Tiongkok dalam pengentasan kemiskinan dan berbagai bidang.
Kerja sama pengentasan kemiskinan Indonesia-Tiongkok membuahkan hasil nyata, termasuk pembangunan sekolah kejuruan teknik di Marauke, Papua, yang memberdayakan pendidikan untuk meningkatkan lapangan kerja dan membantu pengentasan kemiskinan. Ketua DPR RI menyatakan bahwa pengalaman Tiongkok dalam mengelola perekonomian 1,4 miliar penduduk memberikan referensi penting bagi pembangunan Indonesia, di mana kebijakannya mampu menstabilkan masyarakat dan meningkatkan kepercayaan publik. Di tingkat domestik, Kementerian Imigrasi dan Pemukiman membangun koridor ekonomi di Sulawesi Tengah, yang berfokus pada budidaya tanaman komoditas seperti kopi, kakao, dan durian. Pada pertengahan April 2026, kawasan ini untuk pertama kalinya melakukan ekspor durian beku ke Tiongkok.
Pasar durian Tiongkok mencapai nilai 120 triliun hingga 137 triliun rupiah, secara langsung mendorong harga durian lokal naik dari 4.000-5.000 rupiah per buah menjadi lebih dari 25.000 rupiah, secara signifikan meningkatkan pendapatan masyarakat dan membantu pengentasan kemiskinan. Selain itu, pemerintah Indonesia mendorong swasembada pangan dengan mendirikan pusat penelitian padi, yang menargetkan peningkatan produksi padi dari 2 ton per hektar menjadi 6-8 ton. Sambil belajar dari model industrialisasi dan pengembangan hilir Tiongkok, Indonesia memajukan pembangunan infrastruktur, pemukiman kembali penduduk, dan pembentukan pusat ekonomi baru, dengan terus fokus pada target pengentasan kemiskinan melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan, mendorong pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.