Bagi perusahaan Tiongkok, Indonesia masih memiliki peluang, tetapi peluang berikutnya bukan untuk mereka yang paling berani, melainkan untuk mereka yang hitung-hitungannya jelas, kepatuhannya dalam, dan lokalisasinya stabil. Bertahan, melewati masa sulit, menunggu penyeimbangan kebijakan Indonesia selesai, barulah perusahaan yang benar-benar berakar berhak mendapatkan kue dari siklus berikutnya.
Bagaimana reaksi pemerintah Indonesia setelah surat dari Kamar Dagang Tiongkok? Beberapa hari ini, surat dari Kamar Dagang Tiongkok yang ditujukan kepada Presiden Prabowo memang menimbulkan gelombang di kalangan investor Tiongkok di Jakarta. Sebenarnya, setelah bertahun-tahun meneliti hubungan bisnis dan politik Indonesia, saya selalu memiliki penilaian: melihat kebijakan Indonesia, jangan hanya melihat apa yang mereka katakan, tetapi lihat di mana kepentingan tersangkut.
Kali ini, perusahaan Tiongkok bersikap tegas secara kolektif. Di permukaan, masalahnya adalah pajak, kuota bijih nikel, penahanan devisa, visa kerja, dan skala penegakan hukum, tetapi di baliknya adalah penyesuaian kembali pendapatan sumber daya, pendapatan fiskal, dan pengaruh modal asing setelah pemerintahan baru Indonesia berkuasa. Yang lebih menarik, menghadapi surat ini, presiden, menteri ESDM, dan menteri keuangan menunjukkan tiga sikap yang sama sekali berbeda. Hari ini saya akan menguraikannya dari perspektif bisnis dengan bahasa sederhana.
• Pertama, Presiden Prabowo: Langkah tegas di tingkat tinggi, memberikan jaminan terlebih dahulu kepada investor.Mari kita lihat sikap Presiden Prabowo. Ia tidak secara langsung menyebut surat dari Kamar Dagang Tiongkok di depan publik, tetapi waktunya sangat sensitif. Setelah berita tersebut menyebar, Prabowo secara terbuka mengkritik proses perizinan yang terlalu lambat dan regulasi yang terlalu rumit di Indonesia di kantor Kejaksaan Agung Jakarta. Ia bahkan dengan tegas mengatakan bahwa beberapa aturan yang bertumpuk bukan untuk melayani pembangunan negara, melainkan untuk menciptakan peluang rente bagi birokrasi akar rumput.
Pernyataan ini sangat berbobot karena ia mengakui masalah yang sudah lama ada: Indonesia tidak tidak mau investasi, tetapi banyak proyek investasi tersendat di koordinasi antar departemen perizinan, pelaksanaan di daerah, dan praktik rente birokrasi. Jadi, tindakan presiden juga jelas: di satu sisi, ia harus menjaga citra internasional Indonesia yang ramah terhadap investasi asing, di sisi lain, ia memanfaatkan gelombang ini untuk mengarahkan kritik pada sistem birokrasi yang tidak efisien dan pengawasan berlebihan.
Terutama di tengah penurunan peringkat prospek sovereign Indonesia oleh Moody's dan Fitch, Prabowo harus memberi sinyal kepada investor internasional: Indonesia tidak akan menutup pintu, Indonesia akan mereformasi perizinan, Indonesia masih membutuhkan modal asing. Ia tidak maju untuk mendukung perusahaan negara tertentu, tetapi untuk menjaga fondasi kepercayaan terhadap iklim investasi Indonesia secara keseluruhan.
• Kedua, Menteri ESDM Bahlil: Secara lisan menjaga batas, secara teknis membuka celah.Selanjutnya, kita lihat Menteri ESDM Indonesia, Bahlil. Salah satu bidang yang paling dirasakan oleh perusahaan Tiongkok adalah bijih nikel. Dalam beberapa tahun terakhir, modal Tiongkok mendorong ekspansi rantai industri nikel Indonesia dengan kecepatan tinggi, dari peleburan stainless steel hingga bahan baterai energi baru, membentuk klaster industri yang besar. Namun, sekarang pemerintah Indonesia mulai memperketat langkah, dengan satu masalah inti yaitu kuota produksi tambang RKAB yang dikurangi.
Surat kamar dagang menyebutkan bahwa pengurangan kuota bijih nikel di beberapa tambang besar sangat signifikan, bahkan lebih dari 70%. Bagi pabrik peleburan di hilir, tekanan paling langsung adalah kapasitas produksi ada, tetapi pasokan bijih kurang, sehingga pabrik mungkin menghadapi kenaikan biaya bahan baku, bahkan penurunan tingkat operasi.
Masalah lain adalah HPM (harga patokan mineral). Kementerian ESDM Indonesia sejak pertengahan April 2026 menyesuaikan metode perhitungan HPM nikel dengan memasukkan unsur ikutan seperti besi, kobalt, kromium ke dalam perhitungan harga. Dalam pandangan pemerintah Indonesia, ini bertujuan agar nilai sumber daya kembali ke negara. Namun, bagi pabrik peleburan di hilir, ini adalah kenaikan biaya bahan baku yang signifikan.
Tanggapan Bahlil juga sangat representatif. Ia tidak menyangkal kedaulatan sumber daya, juga tidak mengatakan bahwa kebijakan akan ditarik kembali. Ia menekankan bahwa telah berkomunikasi dengan pejabat dan perusahaan Tiongkok, serta menjelaskan kebijakan HPM dan RKAB. Dengan kata lain, sikap Kementerian ESDM bukanlah mundur total, melainkan dapat dikomunikasikan, dapat dijelaskan, dan dapat disesuaikan secara parsial.
Perlu dicatat, pemerintah Indonesia telah menunda kenaikan sebagian Royalty (iuran produksi) dan pajak ekspor mineral, serta menyatakan akan mencari formula yang lebih seimbang. Tindakan ini menunjukkan apa? Menunjukkan bahwa Kementerian ESDM tahu, jika tekanannya terlalu kuat, sehingga pabrik peleburan di hilir dan rantai ekspor terganggu, yang rugi bukan hanya perusahaan Tiongkok, tetapi juga industrialisasi hilir Indonesia sendiri.
Jadi, dari sisi Bahlil, penilaian saya adalah: arah besar tidak akan berubah, Indonesia pasti akan terus meningkatkan pendapatan dari sumber daya, tetapi dalam kecepatan pelaksanaan dan detail teknis, perusahaan Tiongkok masih memiliki ruang negosiasi dan penyesuaian.
• Ketiga, Menteri Keuangan Prabaya: Sikap keras, mempertahankan batas fiskal.Sikap Menteri Keuangan Indonesia, Prabaya, jelas lebih keras daripada presiden dan Kementerian ESDM. Surat kamar dagang secara khusus menyebut masalah kenaikan pajak dan Royalty, peningkatan frekuensi pemeriksaan pajak, dan denda yang bisa mencapai puluhan juta dolar AS.
Terhadap keluhan ini, tanggapan Prabaya sangat langsung: Indonesia menyambut investasi asing yang legal, tetapi jika perusahaan tidak patuh, bahkan beroperasi secara ilegal, pemerintah akan menindak. Ia juga menyebut bahwa pemerintah telah menyampaikan kepada pihak Tiongkok mengenai beberapa perusahaan Tiongkok di Indonesia yang beroperasi tidak sah.
Ini adalah logika khas Kementerian Keuangan: Anda boleh berinvestasi, Anda boleh untung, tetapi sumber daya milik Indonesia, pajak harus dibayar, devisa juga harus melayani stabilitas keuangan Indonesia. Terutama DHE SDA (kebijakan penahanan devisa hasil ekspor sumber daya alam), pemerintah Indonesia berencana menerapkan aturan baru mulai 1 Juni 2026. Inti sistemnya adalah mewajibkan lebih banyak devisa hasil ekspor terkait untuk tetap berada di dalam negeri, lebih banyak masuk ke sistem perbankan BUMN, guna meningkatkan likuiditas dolar AS dan menstabilkan rupiah.
Pemberitaan publik menunjukkan bahwa aturan baru mencakup pengaturan kompleks seperti bank BUMN Himbara, batas penahanan 50% devisa selama 12 bulan, serta mekanisme pengecualian tertentu. Jadi, di pihak Kementerian Keuangan, ini bukan sekadar menargetkan perusahaan Tiongkok, melainkan langkah yang tak terhindarkan akibat tekanan fiskal pemerintahan baru — Prabowo ingin menjalankan program makan bergizi gratis, mendorong industrialisasi, menjaga stabilitas nilai tukar, dan menambah pendapatan negara. Semua uang ini pada akhirnya harus dicari dari sektor sumber daya, perusahaan ekspor, dan rantai keuntungan tinggi.
Kesimpulan: Indonesia bukan ingin mengusir modal Tiongkok, melainkan ingin membagi ulang kueMenyatukan reaksi presiden, Kementerian ESDM, dan Kementerian Keuangan, pemerintah Indonesia saat ini menjalankan strategi dua jalur:1. Secara politik: Presiden tampil meredakan suasana, menekankan pemotongan perizinan berbelit dan pemberantasan rente birokrasi, menstabilkan kepercayaan investor;2. Secara industri: Kementerian ESDM mempertahankan kedaulatan sumber daya dan arah besar industrialisasi hilir, tetapi pada aspek teknis seperti HPM, RKAB, Royalty tetap menyisakan ruang penyesuaian;3. Secara fiskal: Sikap Kementerian Keuangan jelas — pajak yang harus dibayar harus dibayar, devisa yang harus ditahan harus ditahan, kepatuhan yang harus dipenuhi harus dipenuhi.
Jadi, saya ingin mengingatkan, ini bukanlah pemerintah Indonesia yang ingin mengusir modal Tiongkok, melainkan Indonesia memasuki fase baru: dari sebelumnya "selamat datang untuk berinvestasi, bangun industrinya dulu", berubah menjadi sekarang "Anda boleh terus untung, tetapi Indonesia akan mengambil lebih banyak pendapatan sumber daya, pendapatan pajak, dan stabilitas keuangan".
Dulu, banyak perusahaan terbiasa dengan gaya era merintis: cari satu orang kunci, urus satu izin, andalkan koneksi untuk mendorong proyek. Namun, era ini sedang berakhir. Ke depan, berbisnis di Indonesia, kemampuan inti sebenarnya bukanlah "mengurus siapa", melainkan tiga hal:• Pertama, lokalisasi standar tinggi;• Kedua, kepatuhan pajak yang ekstrem;• Ketiga, memasukkan biaya kepatuhan di bidang pertambangan, kehutanan, tenaga kerja, devisa, visa, dan lain-lain langsung ke dalam model bisnis.
Bagi perusahaan Tiongkok, Indonesia masih memiliki peluang, tetapi peluang berikutnya bukan untuk mereka yang paling berani, melainkan untuk mereka yang hitung-hitungannya jelas, kepatuhannya dalam, dan lokalisasinya stabil. Bertahan, melewati masa sulit, menunggu penyeimbangan kebijakan Indonesia selesai, barulah perusahaan yang benar-benar berakar berhak mendapatkan kue dari siklus berikutnya.
Bagi perusahaan Tiongkok, Indonesia masih memiliki peluang, tetapi peluang berikutnya bukan untuk mereka yang paling berani, melainkan untuk mereka yang hitung-hitungannya jelas, kepatuhannya dalam, dan lokalisasinya stabil. Bertahan, melewati masa sulit, menunggu penyeimbangan kebijakan Indonesia selesai, barulah perusahaan yang benar-benar berakar berhak mendapatkan kue dari siklus berikutnya.
Bagaimana reaksi pemerintah Indonesia setelah surat dari Kamar Dagang Tiongkok? Beberapa hari ini, surat dari Kamar Dagang Tiongkok yang ditujukan kepada Presiden Prabowo memang menimbulkan gelombang di kalangan investor Tiongkok di Jakarta. Sebenarnya, setelah bertahun-tahun meneliti hubungan bisnis dan politik Indonesia, saya selalu memiliki penilaian: melihat kebijakan Indonesia, jangan hanya melihat apa yang mereka katakan, tetapi lihat di mana kepentingan tersangkut.
Kali ini, perusahaan Tiongkok bersikap tegas secara kolektif. Di permukaan, masalahnya adalah pajak, kuota bijih nikel, penahanan devisa, visa kerja, dan skala penegakan hukum, tetapi di baliknya adalah penyesuaian kembali pendapatan sumber daya, pendapatan fiskal, dan pengaruh modal asing setelah pemerintahan baru Indonesia berkuasa. Yang lebih menarik, menghadapi surat ini, presiden, menteri ESDM, dan menteri keuangan menunjukkan tiga sikap yang sama sekali berbeda. Hari ini saya akan menguraikannya dari perspektif bisnis dengan bahasa sederhana.
• Pertama, Presiden Prabowo: Langkah tegas di tingkat tinggi, memberikan jaminan terlebih dahulu kepada investor.Mari kita lihat sikap Presiden Prabowo. Ia tidak secara langsung menyebut surat dari Kamar Dagang Tiongkok di depan publik, tetapi waktunya sangat sensitif. Setelah berita tersebut menyebar, Prabowo secara terbuka mengkritik proses perizinan yang terlalu lambat dan regulasi yang terlalu rumit di Indonesia di kantor Kejaksaan Agung Jakarta. Ia bahkan dengan tegas mengatakan bahwa beberapa aturan yang bertumpuk bukan untuk melayani pembangunan negara, melainkan untuk menciptakan peluang rente bagi birokrasi akar rumput.
Pernyataan ini sangat berbobot karena ia mengakui masalah yang sudah lama ada: Indonesia tidak tidak mau investasi, tetapi banyak proyek investasi tersendat di koordinasi antar departemen perizinan, pelaksanaan di daerah, dan praktik rente birokrasi. Jadi, tindakan presiden juga jelas: di satu sisi, ia harus menjaga citra internasional Indonesia yang ramah terhadap investasi asing, di sisi lain, ia memanfaatkan gelombang ini untuk mengarahkan kritik pada sistem birokrasi yang tidak efisien dan pengawasan berlebihan.
Terutama di tengah penurunan peringkat prospek sovereign Indonesia oleh Moody's dan Fitch, Prabowo harus memberi sinyal kepada investor internasional: Indonesia tidak akan menutup pintu, Indonesia akan mereformasi perizinan, Indonesia masih membutuhkan modal asing. Ia tidak maju untuk mendukung perusahaan negara tertentu, tetapi untuk menjaga fondasi kepercayaan terhadap iklim investasi Indonesia secara keseluruhan.
• Kedua, Menteri ESDM Bahlil: Secara lisan menjaga batas, secara teknis membuka celah.Selanjutnya, kita lihat Menteri ESDM Indonesia, Bahlil. Salah satu bidang yang paling dirasakan oleh perusahaan Tiongkok adalah bijih nikel. Dalam beberapa tahun terakhir, modal Tiongkok mendorong ekspansi rantai industri nikel Indonesia dengan kecepatan tinggi, dari peleburan stainless steel hingga bahan baterai energi baru, membentuk klaster industri yang besar. Namun, sekarang pemerintah Indonesia mulai memperketat langkah, dengan satu masalah inti yaitu kuota produksi tambang RKAB yang dikurangi.
Surat kamar dagang menyebutkan bahwa pengurangan kuota bijih nikel di beberapa tambang besar sangat signifikan, bahkan lebih dari 70%. Bagi pabrik peleburan di hilir, tekanan paling langsung adalah kapasitas produksi ada, tetapi pasokan bijih kurang, sehingga pabrik mungkin menghadapi kenaikan biaya bahan baku, bahkan penurunan tingkat operasi.
Masalah lain adalah HPM (harga patokan mineral). Kementerian ESDM Indonesia sejak pertengahan April 2026 menyesuaikan metode perhitungan HPM nikel dengan memasukkan unsur ikutan seperti besi, kobalt, kromium ke dalam perhitungan harga. Dalam pandangan pemerintah Indonesia, ini bertujuan agar nilai sumber daya kembali ke negara. Namun, bagi pabrik peleburan di hilir, ini adalah kenaikan biaya bahan baku yang signifikan.
Tanggapan Bahlil juga sangat representatif. Ia tidak menyangkal kedaulatan sumber daya, juga tidak mengatakan bahwa kebijakan akan ditarik kembali. Ia menekankan bahwa telah berkomunikasi dengan pejabat dan perusahaan Tiongkok, serta menjelaskan kebijakan HPM dan RKAB. Dengan kata lain, sikap Kementerian ESDM bukanlah mundur total, melainkan dapat dikomunikasikan, dapat dijelaskan, dan dapat disesuaikan secara parsial.
Perlu dicatat, pemerintah Indonesia telah menunda kenaikan sebagian Royalty (iuran produksi) dan pajak ekspor mineral, serta menyatakan akan mencari formula yang lebih seimbang. Tindakan ini menunjukkan apa? Menunjukkan bahwa Kementerian ESDM tahu, jika tekanannya terlalu kuat, sehingga pabrik peleburan di hilir dan rantai ekspor terganggu, yang rugi bukan hanya perusahaan Tiongkok, tetapi juga industrialisasi hilir Indonesia sendiri.
Jadi, dari sisi Bahlil, penilaian saya adalah: arah besar tidak akan berubah, Indonesia pasti akan terus meningkatkan pendapatan dari sumber daya, tetapi dalam kecepatan pelaksanaan dan detail teknis, perusahaan Tiongkok masih memiliki ruang negosiasi dan penyesuaian.
• Ketiga, Menteri Keuangan Prabaya: Sikap keras, mempertahankan batas fiskal.Sikap Menteri Keuangan Indonesia, Prabaya, jelas lebih keras daripada presiden dan Kementerian ESDM. Surat kamar dagang secara khusus menyebut masalah kenaikan pajak dan Royalty, peningkatan frekuensi pemeriksaan pajak, dan denda yang bisa mencapai puluhan juta dolar AS.
Terhadap keluhan ini, tanggapan Prabaya sangat langsung: Indonesia menyambut investasi asing yang legal, tetapi jika perusahaan tidak patuh, bahkan beroperasi secara ilegal, pemerintah akan menindak. Ia juga menyebut bahwa pemerintah telah menyampaikan kepada pihak Tiongkok mengenai beberapa perusahaan Tiongkok di Indonesia yang beroperasi tidak sah.
Ini adalah logika khas Kementerian Keuangan: Anda boleh berinvestasi, Anda boleh untung, tetapi sumber daya milik Indonesia, pajak harus dibayar, devisa juga harus melayani stabilitas keuangan Indonesia. Terutama DHE SDA (kebijakan penahanan devisa hasil ekspor sumber daya alam), pemerintah Indonesia berencana menerapkan aturan baru mulai 1 Juni 2026. Inti sistemnya adalah mewajibkan lebih banyak devisa hasil ekspor terkait untuk tetap berada di dalam negeri, lebih banyak masuk ke sistem perbankan BUMN, guna meningkatkan likuiditas dolar AS dan menstabilkan rupiah.
Pemberitaan publik menunjukkan bahwa aturan baru mencakup pengaturan kompleks seperti bank BUMN Himbara, batas penahanan 50% devisa selama 12 bulan, serta mekanisme pengecualian tertentu. Jadi, di pihak Kementerian Keuangan, ini bukan sekadar menargetkan perusahaan Tiongkok, melainkan langkah yang tak terhindarkan akibat tekanan fiskal pemerintahan baru — Prabowo ingin menjalankan program makan bergizi gratis, mendorong industrialisasi, menjaga stabilitas nilai tukar, dan menambah pendapatan negara. Semua uang ini pada akhirnya harus dicari dari sektor sumber daya, perusahaan ekspor, dan rantai keuntungan tinggi.
Kesimpulan: Indonesia bukan ingin mengusir modal Tiongkok, melainkan ingin membagi ulang kueMenyatukan reaksi presiden, Kementerian ESDM, dan Kementerian Keuangan, pemerintah Indonesia saat ini menjalankan strategi dua jalur:1. Secara politik: Presiden tampil meredakan suasana, menekankan pemotongan perizinan berbelit dan pemberantasan rente birokrasi, menstabilkan kepercayaan investor;2. Secara industri: Kementerian ESDM mempertahankan kedaulatan sumber daya dan arah besar industrialisasi hilir, tetapi pada aspek teknis seperti HPM, RKAB, Royalty tetap menyisakan ruang penyesuaian;3. Secara fiskal: Sikap Kementerian Keuangan jelas — pajak yang harus dibayar harus dibayar, devisa yang harus ditahan harus ditahan, kepatuhan yang harus dipenuhi harus dipenuhi.
Jadi, saya ingin mengingatkan, ini bukanlah pemerintah Indonesia yang ingin mengusir modal Tiongkok, melainkan Indonesia memasuki fase baru: dari sebelumnya "selamat datang untuk berinvestasi, bangun industrinya dulu", berubah menjadi sekarang "Anda boleh terus untung, tetapi Indonesia akan mengambil lebih banyak pendapatan sumber daya, pendapatan pajak, dan stabilitas keuangan".
Dulu, banyak perusahaan terbiasa dengan gaya era merintis: cari satu orang kunci, urus satu izin, andalkan koneksi untuk mendorong proyek. Namun, era ini sedang berakhir. Ke depan, berbisnis di Indonesia, kemampuan inti sebenarnya bukanlah "mengurus siapa", melainkan tiga hal:• Pertama, lokalisasi standar tinggi;• Kedua, kepatuhan pajak yang ekstrem;• Ketiga, memasukkan biaya kepatuhan di bidang pertambangan, kehutanan, tenaga kerja, devisa, visa, dan lain-lain langsung ke dalam model bisnis.
Bagi perusahaan Tiongkok, Indonesia masih memiliki peluang, tetapi peluang berikutnya bukan untuk mereka yang paling berani, melainkan untuk mereka yang hitung-hitungannya jelas, kepatuhannya dalam, dan lokalisasinya stabil. Bertahan, melewati masa sulit, menunggu penyeimbangan kebijakan Indonesia selesai, barulah perusahaan yang benar-benar berakar berhak mendapatkan kue dari siklus berikutnya.